Home / Cerita Ringan / Tentang Perpisahan, Janda dan Duda [A Simply Though]

Tentang Perpisahan, Janda dan Duda [A Simply Though]

crack-clipart-by-megapixlLygiapecanduhujan.com – Mungkin bagi sebagian pembaca postingan ini, judul di atas hanya akan dianggap sebagai mencari sensasi semata. Namun saya memang tergelitik untuk menuliskannya setelah berdiskusi dengan banyak sahabat, yang beberapa diantaranya memiliki ‘nasib’ yang sama, yaitu menjanda atau menduda, dengan berbagai alasan.

Berikut, adalah pendapat saya tentang tema di atas. Sekali lagi, ini adalah pendapat saya pribadi. Bukan untuk mempengaruhi, pencitraan ataupun melakukan pembenaran.

#PERPISAHAN, adalah sebuah episode kecil dalam kehidupan. Hanya salah satu dari banyak takdir Allah lainnya yang bisa terjadi pada SIAPA SAJA, kapan saja dan di mana saja.

#PERPISAHAN, bisa terjadi karena satu hal, BERCERAI. karena kematian ataupun karena alasan lain. Lantas, banyak orang (terutama kaum perempuan) yang seringkali tanpa berpikir langsung saja berkomentar, “Idih, amit-amit deh, jangan sampe saya cerai sama suami, Amit-amit!” Lho, lupakah dia kalau takdir Allah itu mutlak meski kita tak tahu kapan akan terjadi? Bukankah kematian merupakan salah satu takdir Allah dan bercerai karena kematian tentunya juga mutlak akan terjadi? —> Jika merasa bahwa bercerai itu adalah amit-amit, lebih baik jangan pernah menikah saja. dijamin, tak akan pernah bercerai karena alasan apapun.

#PERPISAHAN, memang tak pernah diinginkan oleh siapapun, terutama ketika mereka memutuskan untuk menikah. INGATLAH, Jargon “Sekali seumur hidup” atau “Satu untuk Selamanya” bukan hanya merupakan impian segelintir orang saja, melainkan SEMUA ORANG.

#Jadi, ketika melihat atau bahkan mengalami sendiri sebuah PERPISAHAN, mengapa banyak dari kita yang merasa alergi karenanya? Bukankah tidak ada yang pernah bermimpi untuk berpisah? Mengapa kita tidak mencoba sedikit saja berempati terhadap takdir yang satu itu, dan menganggapnya sama saja seperti takdir2 Allah lainya, tidak perlu dihina, dilecehkan dan dihindari?

#PERPISAHAN, juga seperti KEMATIAN,adalah sebagian kecil dari takdir Allah yang bukan ditakuti melainkan untuk dijalani dengan sebaik-baiknya setelah sebelumnya kita telah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala macam kemungkinan terburuk dari Takdir kita di dunia.

#JANDA, bukan sebuah status yang diimpikan oleh kaum perempuan. tapi kalau status itu terpaksa harus disandangnya, karena berbagai alasan yang hanya mereka sendiri dan Allah yang tahu kebenarannya, mengapa STATUS itu seperti dijadikan bahan olok-olok, dicemooh, dihindari, bahkan seringkali tanpa sengaja dihina dengan kata-kata, “Amit2 deh kalau gue jadi janda kayak dia!”

#JANDA, kata tersebut seringkali dikaitkan dengan konotasi NEGATIF, misalnya JANDA (maaf) GATEL, JANDA KESEPIAN, dan lainlain. Bahkan banyak praktek2 pornografi di Indonesia yang mengaitkan kata JANDA ini sebagai daya tariknya. lantas, apakah salah kalau pada akhirnya banyak diantara pemilik status janda ini (saya salah satunya) yang akhirnya merasa gerah dan lebih memilih untuk menyebut statusnya sebagai ‘orangtua tunggal’, Single Mom, dan ‘single parent’? Tapi mengapa di belakang sana masih saja banyak yang (lagi-lagi) menghina dengan kalimat semisal, “Alaah, mau dbilang single mom kek, single parent, kek, orgtua tunggal kek, tetep aja statusnya JANDA. apa bedanya?” —> Ya, memang tidak ada bedanya, cuma kami ingin merasa lebih dihargai di masyarakat, dan salah satu caranya adalah dengan tidak menyebut kami dengan sebutan yang saat ini marak dipakai dalam konotasi yang tidak baik. Salahkah?

#DUDA, seharusnya kedudukannya adalah sama dengan JANDA. Sama-sama sebagai salah satu dari dua pihak PELAKU perceraian, tapi mengapa, posisinya dimata masyarakat dianggap jauh lebih terhormat dibanding kata JANDA? Duda sering dikaitkan dengan istilah DUDA KEREN, dan pernahkah status DUDA itu dikonotasikan negatif misalnya dalam praktek2 pornografi di negeri ini? jarang, bahkan nyaris tidak pernah.

#DUDA dan #JANDA adalah sebuah status yang kedudukannya sama, hanya tugasnya saja yang berbeda. Tugas JANDA adalah mengurus dan membesarkan anak-anak yang dihasilkan dari perkawinannya, sementara tugas DUDA adalah MEMBIAYAI alias MENAFKAHI anak-anaknya seperti biasa, kecuali atas kasus-kasus luar biasa yang tidak bisa seperti itu. Sepakat?

mother-clipart-clipartsco#TAPI mengapa, pada prakteknya, banyak JANDA rela jungkir balik demi mengurus sang buah hati sendirian, sementara DUDAnya malah asyik terbang bebas kemanapun ia suka, tanpa pernah peduli untuk ikut membiayai atau sekadar menafkahi semampunya? “Ayahnya ada kok, tapi dia gak pernah nitip sekadar uang jajan buat anak2nya.” Pernah mendengar kalimat seperti itu? saya pernah, bahkan mengalami sendiri. Tak jarang malah si mantan suami kabur begitu saja tanpa kabar berita. Hellowww, bukankah anak-anak ini terlahir dari kerjasama kalian berdua?

Akhir kata, saya, Lygia Nostalina aka Lygia Pecanduhujan hanya sekadar ingin berbagi pendapat saja. Sudahlah, kalau ada seorang perempuan yang (misalnya) berselingkuh, merebut suami orang, atau melakukan hal negatif dan berdosa besar lainnya, tolong soroti HANYA kelakuan negatifnya saja, jangan STATUSnya. Karena yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan berdosa besar seperti contoh di atas itu bukan hanya seorang JANDA bukan?

Pun, tolong tempatkan Kata JANDA dan DUDA ditempat yang seimbang dan adil. Semisal, kalau ada perselingkuhan, yang kerap terdengar adalah kata-kata, “Dasar Janda lo! Tukang rebut suami orang!” tapi sangat jarang kita dengar, “Dasar Duda lo!, tukang rebut istri orang!” padahal banyak lho duda-duda di luar sana yang mungkin kelakuannya lebih buruk dari yang perempuan. Mungkin lho yaa..

Perpisahan, Janda, dan Duda, adalah sebuah takdir, yang tidak semua orang pernah akan membayangkan berada di dalamnya. Jadi, mengapa kita tidak mau sedikit saja berempati? Coba, saya ingin bertanya, adakah di antara kalian di luar sana yang ingin SATU MENIT SAJA bertukar tempat dengan kami? Semoga saja tidak ada, dan jangan pernah ada.

Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan membaca tulisan ini.

 

 

About LygiaPecanduhujan

Check Also

ipank-the-daning-king-_-berbagi-cinta-lewat-hebatnya-menari-l-o-v-e

Ipank The Dancing King : Berbagi Cinta Lewat Hebatnya Menari L.O.V.E

Lygiapecanduhujan.com – Saya sama sekali tidak menyangka kalau Ipank, anak bungsu saya sekarang sudah berusia …

16 comments

  1. Memang teh mendapat lebel janda itu benar-benar tidak enak. karena apapun yang kita lakukan selalu mendapat sorotan dari lingkungan sekitar kita. Walaupun apa yang kita lakukan tidak ada yang salah baik di mata hukum maupun agama. Tapi pinsip hidup erly the show must go on. Jalani hidup ini dengan lurus dan bersih apapun pandangan orang terhadap kita biarkan saja selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan norma agama dan susila.
    Yang terpenting orangtua dan keluarga besar, serta sahabat-sahabat kita selalu memberikan dukungan, semangat dan kepercayaan itu sudah lebih dari cukup.

  2. Hmm…
    Hal yang Mba Lygia bahas, memang selalu saya pikirkan dan pertanyakan juga. Ketika saya memutuskan untuk berpisah, saya tahu ada resiko untuk menghadapi status baru saya, dan entah kenapa bermakna negatif.
    Apa yang mba bicarakan, juga memang selalu terjadi, apalagi pada janda-janda yang berpisah karena perceraian. Janda cerai selalu dianggap ‘lebih’ buruk daripada janda mati. Walaupun misalnya, pihak suami yang meninggalkan istri dan anaknya demi perempuan lain. Entah kenapa, masyarakat lebih suka mencibir dan menyalahkan pihak istri, karena dianggap tidak bisa menjaga suaminya. sedangkan pihak suami yang tidak bertanggung jawab, malah dianggap biasa.
    Saya sendiri mengalami, awalnya saya jengah dengan panggilan janda, lebih suka menyebut diri single mom. Tapi lama-lama, saya belajar untuk menerimanya, dan sekarang saya sudah bisa tertawa dengan sebutan janda.
    Sebagai janda, saya mengalami kesulitan untuk menyembuhkan diri, mengatasi rasa malu dan tidak percaya diri itu perlu sesuatu yang besar. Dan hal itu yang selalu saya pikirkan saat ini, adakah forum untuk diskusi atau sharing sesama janda? Agar yang sudah sembuh dan pengalaman bisa membagi semangatnya untuk janda pemula. Semoga ada, dan saya belum tahu.
    Mudah-mudahan tulisan ini sedikit bisa menyadarkan masyarakat, yang kebanyakan ibu-ibu juga, untuk lebih bersimpati dan empati pada perempuan-perempuan yang ditakdirkan menjadi janda.
    Tetap kuat dan semangat, apalagi jika ada si kecil yang harus kita bahagiakan.
    Salam sayang penuh pelukan yang hangat untuk perempuan-perempuan janda di manapun.

  3. Setuju teh, banyak orang lebih sering menghakimi orang lain tanpa berkaca ke dirinya sendiri. Salut pisan ke teteh semoga dipermudah oleh Allah dalam segala hal.. *peluk cium

  4. Setuju banget teh Ligya dengan semua tulisan ini. Betul kenapa ya di masyarakat status koq terasa lebih rendah dibanding duda ? padahal banyak duda yg kelakuannya lebih buruk drpd janda

  5. siapapun yg membaca semoga bisa mengambil hikmahnya….. always inspiring mb 🙂 #bighug

  6. mungkin itu dampak bias gender teh,
    tapi ada yg bermakna indah…janda kembang (bukankah artinya janda yang harum mewangi) 🙂

    pokoknya apapun status itu hanya peran dlm kehidupan, yg dinilai bukan statusnya tapi mengisi peran tsb sbg insan terbaik (khoerukum anfa’ukum linnasi)

  7. Di dalam masyarakat kita bahkan di luar juga, janda memang memiliki konotasi yang negatif, karena yang muncul ke permukaan adalah janda-janda yang tidak benar kelakuannya, apalagi saat ini terjadi ekploitasi wanita habis-habisan terutama janda untuk kepentingan kapitalisme mendulang dolarnya dengan berita-berita yang semakin hot dan kontrovesi membuat mereka makin kaya namun berakibat buruk bagi nasib janda-janda yang baik.
    Dalam kehidupan saya, banyak saya temui janda yang berhasil menjadi manusia yang tangguh, sabar dalam segala ujian termasuk jandanya saudara angkatku yang suaminya meninggal
    Sedangkan duda……masyarakat kita kan ga asyik kalau ngomongin laki-laki…..

  8. memang betul mas Edi Padmono mayarakat kita lebih asyik ngomongin janda . Jadi masyarakat itu sendiri yang membuat status janda buruk.

  9. Teh lygia…..hiks..hiks….kadang krn takut menjadi janda wanita rela harga dirinya remuk redam…..smg tulisan ini bisa menjadi renungan……tq yq teh…*hug*

  10. hidup janda!!! hahahaaa…… cemungud para janda……

  11. dear mba lagi,

    saya juga sedang dlm proses perubahan hati dan pikiran utk memutuskan jadi janda atau meneruskan hidup berumah tangga.
    Maaf saya mau sedikit sharing ke sesama wanita jika mengalami seperti saya apa jalan yg akan diambil?
    saya sebetulnya seorang istri yg bahagia walaupun blm dikanunia anak di pernikahan kami yg ke 10 krna sya punya penyakit myom yg hrs dioperasi. tapi krna keterbatasan dana blm jadi untuk operasi.
    dulu pernah ada kejadian yg smpe membuat saya hrs menjalani hidup didlm terali besi krna sya difitnah oleh tmn ktr dan suami malah pergi tidak pernah menjenguk saya dng alasan dia takut dicri cari juga.
    setelah 1 tahun lwt akhirnya sya bs berkumpul lg sm suami tp sya merasa ada yg lain sm suami.
    akhirnya batu 3 bln kmrn suami mengaku bahwa dia telah menikah lg dan sdh punya anak dan pernikahan mereka sdh berjalan 2 tahun lebih jadi itu terjadi selama saya di dlm.
    dl saya dan suami punya segalanya punya rumah 2 punya mobil 2 tp skrg smua habis di gadai dan dijual krna untuk menutupi kehidupan suami dan istri mudanya dan kehidupan saya sblm saya bekerja.
    tp yg mba perlu ketahui selama saya dan suami berumah tangga yg mencari uang adalah saya suami tak bekerja hanya serabut.
    smua mbl dan rumah hal kerja saya.
    tp apa yg saya dpt kan setelah saya keluar suami malah menikah lg dan menghahambur hamburan hasil kerja saya.
    dan sekarang saya bekerja dan punya usaha lg tp saya juga hrs bagi dua penghasilan dr kerja dan usaha saya untuk menghidupi anak dan istri mudanya.
    dsitu saya merasa sya cm dijadikan mesin ATM sm suami untuk penuhi kebutuhan nya dia dan istri mudanya.
    yg perlu mba ketahui istri mudanya berumur lebih tua 3 tahun dari saya dan lebih tua 5 tahun dari suami saya istri mudanya itu adalah janda yg sdh pernah menikah 3 kali dan selalu berakhir dng perceraian dan punya anak 1 yg sdh kuliah dan pekerjaan istri muda suami saya ini dl adalah seorang DJ di kelab mlm di jakarta.
    dan suami saya kenal sm istri mudanya ini saat suami saya sering ke kelab mlm.
    nah yg saya ingin tanyakan klo seperti saya ini salahkan saya klo saya minta cerai? krna jujur saya sudah tidak kuat dan sanggup lg untuk menghidupi semuanya. salahkah saya klo jadi janda dan bagaimana tanggapan tmn tmn ktr saya dan tetangga rumah? itu yg membuat saya menjadi bimbang.
    dan saya juga heran knpa suami saya dan istri mudanya itu smpe pernikahan skrg sdh 3 tahun dan sdh ada 2 anak yg msh kecil kecil blm juga mendapatkan rejeki, suami saya smpe skrg blm bekerja begitu juga dng istri mudanya tidak bekerja sm sekali dan smpe skrg pun suami saya selalu susah untuk mendapatkan rejeki untuk penuhi kebutuhan nya.
    sedangkan saya alhamdulillah saya Bekerja dan msh dpt sedikit tambahan rejeki dari supplier.
    mohon diberikan saran mba.

    terima kasih sebelumnya lia

    • @mbak Lia…

      Maaf sebelumnya, mungkin saya kasar. Tapi, menurut saya, lebih baik mbak berpisah dengan suami mbak. Pasti ada laki-laki yang lebih baik dan lebih bisa menghargai mbak di luar sana. Sebetulnya saya pengen ngomel2 sih bacanya… laki macam apa itu bla bla bla.

      10 tahun menikah, apa yang mbak dapatkan? Apakah tujuan pernikahan mbak terlaksana?

      Apa yang mbak takutkan dari bercerai? Status janda? Mbak tokh bisa menghidupi diri sendiri dengan baik.

      Sayangi dirimu sendiri, mbak.

  12. Perpisahan suami-isteri memang bisa menimbulkan aneka masalah utamanya perceraian. Yang jelas anak-anak akan menjadi korban.
    Terima kasih renungannya
    Salam hangat dari Jombang

    • Salam Hangat, Pakde … memang anak-anak yang pastinya menjadi korban, selain hati kedua pasangan itu sendiri. Tapi, pertanyaannya adalah bagaimana rasa sakit yang diakibatkan oleh perpisahan itu bisa diminimalisir oleh semua pihak .. hiks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *