Home / Cerita Ringan / Perempuan Yang Berlari Mengejar Hujan

Perempuan Yang Berlari Mengejar Hujan

Untukmu, perempuan yang berlari mengejar hujan, aku ingin bercerita.

Tentang sebuah kisah cinta yang tak usang dimakan masa. Tentang sebuah rasa yang begitu sederhana tanpa kata. Kisah seorang lelaki yang selalu datang bersama hujan. Menepikan mimpi-mimpi pada asa. Mimpi-mimpi tentang sekuntum bunga yang sedang mekar, sekuntum bunga Magnolia. Ingatkah engkau ?

Untukmu, perempuan yang berlari mengejar hujan, aku ingin bertanya.

Tahukah kau, bahwa dia masih merindukan Magnolia itu ? Bunga yang kecantikannya terpancar dari kelopak-kelopak bunganya yang tersusun bertumpuk membentuk mahkota dengan benang sari berbentuk segitiga ditengahnya. Kelopaknya juga begitu tebal dan berukuran lebar . Bunga yang memiliki daun-daun yang besar dengan daun pada umumnya berwarna hijau gelap. Namun sayang, kecantikan bunga itu hanya dapat dinikmati dalam waktu teramat singkat. Di duapuluh empat jam kedua, bunganya akan mengering dan gugur dengan sendirinya bila terkena hujan. Magnolia pun hanya mekar sampai menjelang petang sehingga saat mentari tak lagi terlihat, bunganya akan kembali menguncup. Sungguh, benar-benar si cantik yang unik dan langka !

Magnolia itu sepertimu, indah dengan caranya sendiri. Megah, semegah cinta kalian yang tersudutkan sepi. Semuram langit tak berpelangi. Tahukah kau, lelaki itu tersiksa ?

Untukmu, perempuan yang berlari mengejar hujan, aku ingin berbagi kisah.

Tentang kelancanganku yang tergerak untuk menuliskan apa yang bergejolak di batin ini. Tentu kita sama sepakat bahwa tak ada kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu, alur hidup kita, telah dirancang sedemikian rupa dalam bentuk skenario terindah dari Sang Maha Sutradara. Mungkin tak semua bisa dimengerti. Tapi kelak pasti akan kita pahami.

Tentang sebuah kegelisahan yang diawali dari sebuah mimpi. Mimpi ? Ya, mimpi. Suatu ketika, beberapa hari yang lalu, di malam di mana hujan datang dengan segala keriuhannya hingga satu-satu butiran-butiran air itu menghujam bumi, menghempas beranda , menerbangkan daun-daun hingga terlepas dari dahannya, aku bermimpi.

Tentang seorang lelaki yang tengah menatap lembut perempuan di depannya dengan sepenuh gairah hidup , semesta rindu yang nanar mencari arah pulang, dialah lelaki yang kerap kau sebut sebagai Hujan, hujanmu. Lelaki yang segala kesederhanaannya mampu menarikmu semacam magnet yang rindu bertemu dengan kutub-kutubnya. Lelaki yang ingin menari bersamamu di koridor panjang, ruang Vanesa yang entah dimana, mungkin hanya kalian berdua yang tahu letaknya. Menerbangkan berbagai cerita yang kalian ciptakan dalam harap ketika waktu menghening.

Tentang perempuan berkulit putih tembaga yang cantik dalam gaun panjangnya yang melayang sepanjang partitur indah , tercipta karena cinta. Dalam mimpiku, lelaki itu berseru seraya menatapku.

“Hei…lihatlah ini ! ini dia, yang selama ini kucari dan kurindukan ! ini orangnya !” Seruan tertahan dengan raut terpesona pada keindahan yang tersuguh di depan mata seraya kedua tangannya memegang pipi perempuan itu yang, entah mengapa, sangat kuyakini itu dirimu.


Untukmu, perempuan yang berlari mengejar hujan, aku ingin bertutur.

Bahwa ketika terbangun keesokan harinya dengan seribu tanya berkeliaran di dalam sel-sel kelabu otak kecilku, aku terpaksa bertanya pada lelaki itu.

“Apakah kau semalam sedang mengingat seseorang ?”

“Ya,” Jawabnya lirih nyaris serupa bisikan.

“Boleh kutebak ? orang itu……… mmm, Perempuan cantik berkulit putih yang gaun panjangnya melayang dalam benakmu, yang selalu membuatmu rindu akan kata pulang ?”

“Ya ! bagaimana kau tahu ?!” serunya kaget.

“Karena aku bermimpi di saat yang sama ketika kau sedang mengingatnya. Kau lupa, aku dan mimpi-mimpiku, seperti dua sahabat lama yang tak terpisahkan.”

Lelaki itu hanya tergugu. Bibir tipisnya mengetat seolah terkunci dan meniadakan jawaban lebih banyak lagi. Aku terdiam. Entah harus seperti apa berujar jika di hadapan kita hanyalah tembok tinggi yang tak terjangkau. Hingga, keheningan itu berlangsung jauh lebih lama dalam kehati-hatian bercakap. Hening yang membuat kabut gelap seolah melayang di atas kepala, menanti saatnya meledak menjadi butiran-butiran hujan.

Begitulah, sampai saat ini kami tak pernah bercakap lagi. dia menyimpan kesakitan yang sama dengan apa yang kau rasakan. tapi dia menyimpannya terlalu rapi. dia gelisah, dia merindu, dia mengekalkan ingatannya kepadamu, wanita yang selalu hadir dalam setiap kenangan yang dia pahatkan di langit senja yang menembaga.

Seolah segala kata tak lagi mampu mengejawantahkan apa yang ada dalam hatinya. Aku menangis untuknya. Menangisi segala sakitnya, menangisi segenap rindunya kepadamu. Belum pernah sepanjang perjalanan hidupku, kutemukan mata yang demikian sendu, mata yang di dalamnya tersimpan begitu banyak kepedihan yang hendak ditahan-tahan. Mata itu, ah, mesti dengan apa kugambarkan mata yang luar biasa tajam mengukir cinta tak berujung ?

Hendak bagaimana kutanya padanya tentang sakit yang dia tanggung sendiri itu, sementara ia tak pernah sedetikpun menoleh padaku. Seolah rohnya melayang kesana kemari mencari tempat berlabuh meski raganya ada tepat dihadapanku. Ada hawa beku melayang di sekitar kami setiap saat. Bom waktu yang sepertinya siap meledak setiap. Sungguh, rasanya aku juga siap meledak seketika jika ia tak jua mau membuka mulutnya dan bicara, alih-alih membiarkan aku sendiri menguntai tanya dan mencari jawab dalam sepi.

Untukmu, perempuan yang berlari mengejar hujan, aku ingin mengungkap rasa.

Tentang kerumitan-kerumitan yang tercipta diantara aku dan dia, Hujanmu. Betapa ketika pertama kali melihatnya dulu dalam sebuah pagelaran seni di kota kami, aku telah menatap mata yang sama, mata yang menyiratkan duka. Kemudian dia menghampiriku, mengajak berkenalan dengan cara yang teramat santun dan penuh kelembutan.

“Hai, aku Raja. Boleh tahu namamu ?”

Kau tahu, teman-teman yang sedang bersamaku saat itu sibuk saling sikut melihat lelaki itu mengulurkan tangan ke arahku. Betapa tidak, aku, mahasiswi tingkat akhir sebuah universitas swasta di kota kecil ini, diajak berkenalan oleh seorang seniman berbakat. Seorang sutradara teater terbesar di kota kami. Seorang lelaki gagah bersorot mata sendu.

“Hai, aku Rainy, “ dengan sedikit gemetar kusambut uluran tangannya. Hangat. Tangan itu terasa hangat menyentuh tanganku. Caranya bersalaman membuatku harus menilainya sebagai seorang lelaki yang tegas dan sangat percaya diri.

“Rainy ? Kau gadis hujan rupanya. Sama sepertiku yang juga mencintai hujan.”

Aku hanya mampu terpesona memperhatikan setiap kata yang terucap dari bibirnya, suaranya halus, lembut, melenakan.

Itu menjadi hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Kelak, pada akhirnya kami menjadi sedemikian dekat. Lelaki itu selalu mengisi hari-hariku dengan segala kebersahajaannya, kesantunan sikap yang tak kutemukan dalam diri lelaki lain. Sungguh, tak kutemukan kemurungan itu dalam setiap hal yang ia bagi bersamaku. Semua berjalan sangat indah, sangat memabukkan bagiku.

Hidup bagiku terasa semanis gula-gula. Aku menjelma bagai ratu dalam setiap untaian kata yang ia pintal menjadi puisi-puisi indah. Cinta, ya, aku percaya itulah cinta. Cinta yang membuatku mampu mengecap kata indah begitu kental dalam keseharian. Duhai, betapa manis sergapan rindu itu datang dari segala arah. Lelaki itu, membuat hidupku berbeda.

Tapi tahukah kau, wahai perempuan yang berlari mengejar hujan, ternyata manis itu tak mungkin kukecap sepanjang sisa usia ? lambat laun kuhayati setiap prilakunya seolah menyimpan sesuatu yang asing. Asing bagi segala kemanisan yang kurasa ini. Seolah dibalik semua keindahan, ia menyimpan sesuatu yang begitu dalam, sesuatu yang tak dapat kuselami maknanya dalam setiap kebersamaan kami. Kerap kupergoki ia sedang ngungun, termangu menatap entah. Menatap lurus ke depan tapi ku tahu, jiwanya tak ada di sana. Dalam diam dan sembunyi-sembunyi kuawasi keasyikannya melayangkan angan. Begitu ingin ku mencari tahu apa yang ada dalam matanya, atau lebih tepat jika kukatakan, siapa yang ada di sana ?

Sampai suatu ketika, tanpa sengaja aku melihat laptopnya yang terbuka sedang pemiliknya tertidur pulas di samping benda kesayangannya itu. Siang itu ia memang menyempatkan mampir ke rumahku, padahal aku tahu semalaman ia terjaga , melatih Teater Hujan asuhannya untuk pementasan keliling bulan depan. Ia memenuhi janji untuk datang karena aku memintanya, dan ia tak pernah sekalipun menolak keinginanku, salah satu bentuk perhatian dan kasih sayangnya padaku.

Dengan sedikit gemetar dan keringat dingin yang mendadak mengaliri keningku, aku menghampiri laptopnya yang masih menyala. Entah apa yang kucari di sana. Tak biasanya aku mengacak-acak privasi orang lain seperti itu. Satu persatu kubuka folder-folder yang ada di hard disk. Kebanyakan berisi tulisan-tulisannya, cerpen, puisi, naskah teater,video-video pementasan, seabreg foto termasuk foto-foto kami berdua dalam berbagai kesempatan, dan sebuah folder yang isinya khusus musik. Aku membuka semua sambil lalu. Seperti ada satu kekuatan besar yang mendorongku, pada akhirnya kubuka satu folder berlabel nama unik, “BIRUKU”.

Dengan dua kali mengklik mouse, terbukalah folder itu. File-file yang ada di dalamnya membuatku tercekat. Dokumentasi yang begitu lengkap. Berisi file Word yang ketika kubuka satu persatu isinya membuat air mataku menetes dan terus menetes satu persatu tak terhentikan.

Ia begitu mencintaimu, Magnolia.

Dan aku begitu mencintainya ….


aku mencintaimu. mencintaimu seperti hujan yang turun sore hari. jatuh tanpa alasan dan menyenangkan.

(Pada Sebuah Perjalanan – Gema Yudha)

(bersambung)

About LygiaPecanduhujan

Check Also

ipank-the-daning-king-_-berbagi-cinta-lewat-hebatnya-menari-l-o-v-e

Ipank The Dancing King : Berbagi Cinta Lewat Hebatnya Menari L.O.V.E

Lygiapecanduhujan.com – Saya sama sekali tidak menyangka kalau Ipank, anak bungsu saya sekarang sudah berusia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *