Home / Uncategorized / EMAK BACKPACKER (1)

EMAK BACKPACKER (1)

MIMPI

 

Mengingat mimpi yang saya tuliskan akhir tahun lalu di sini, di dinding fesbuk ini, tentang keinginan untuk berkeliling Indonesia di semester pertama tahun ini, dan ke luar negeri di semester akhir tahun, saya jadi takjub sendiri.

Mungkin bagi sebagian orang yang memang sudah menjelajah bagianbagian bumi ini, mimpi saya teramat sederhana. Bagi sebagian yang lain, mimpi saya hanya dipandang sebelah mata.

“Status Gia itu kenyataan atau halusinasi sih?”

“Mimpi kok ketinggian. Ngakunya nggak punya duit, nggak punya pekerjaan tetap, tapi kok pengen ke luar negeri.”

“Status Gia itu cuma pengen memancing simpati berlebihan!”

Jujur, saya sedih sekali ketika mendapat brondongan komen seperti itu. Tapi saya memilih diam, karena memang saya belum bisa membuktikan apaapa. Kenyataannya, saya memang seorang Ibu Tunggal dengan 3 anak dan 2 ortu yang menjadi tanggung jawab saya dan harus saya biayai dari hasil saya menulis dan mengedit, tidak punya gaji bulanan apalagi tunjangan ini itu.

Saya pun mengakui, ketika menuliskan status tentang mimpi saya itu, kondisi saya memang tidak bisa disebut mapan. Saya dicap EGOIS, karena mereka menganggap kok saya bisa mentingin diri sendiri ingin jalan-jalan backpackeran sendirian, menghabiskan uang untuk impian saya itu, sementara anakanak ditinggal di rumah mau makan apa kalau ibunya sibuk jalan-jalan dan nggak kerja?

Benarkah saya egois? Sementara di tengah saya berpikir untuk menabung biaya travelling, saya juga sibuk berpikir bahwa bagaimanapun caranya, saya harus meninggalkan biaya untuk di rumah. Itukah yang dinamakan egois?

Impian saya kemudian coba saya jalin satu persatu. Setiap ada teman yang berangkat ke luar, tak lupa saya pintakan kepada mereka agar mereka mau menulis di secarik kertas dan memotretnya untuk saya. Isinya: “LYGIA PECANDUHUJAN WILL BE HERE SOON!”

Mungkin banyak orang menertawakan kekonyolan saya tersebut, namun rupanya sahabat-sahabat yang saya mintakan tolong itu tak pernah keberatan. Nidandelion Pedestrian menuliskannya untuk saya, dan mengangkat tulisan itu tinggi-tinggi ketika difoto berlatar belakang sebuah taman nun di Korea sana. Yang lebih membuat saya menangis (bahkan saya selalu menangis setiap mengingatnya), sahabat saya Mbak Butet TANPA saya minta menuliskannya besar-besar di sebuah karton bekas, dan mengangkat tulisan itu dengan penuh semangat di ….. MEKKAH! ketika saya melihat fotonya, saya langsung sujud syukur dan mengaminkannya jutaan kali.

(FYI, saya menuliskan ini dalam angkot dan saya menangis)

Ternyata di tengah banyak orang yang sibuk mencemooh saya di belakang sana, masih ada orang yang mau PERCAYA bahwa impian saya layak diperjuangkan.

Dan ketika tiba-tiba, jauh sebelum semester kedua tahun ini saya jelang, ada seorang teman yang mengajak saya untuk mengangkat ransel backpackeran ke Malaysia Bangkok, dan Singapore, saya tercengang.

Inikah saatnya?? Inikah saatnya saya menjejakkan LANGKAH PERTAMA saya dalam mewujudkan mimpi yang lebih besar lagi? Hey, tapi mana uangnya?? Saya pun panik, antara keinginan yang sudah di depan mata, dengan kondisi real saya.

Bismillah, siang malam saya rapal ribuan doa dan harap untuk kemudian mengirimkannya ke langit. Rezeki pun berdatangan satu per satu. Mulai dari seorang teman yang tanpa saya duga mengirim bbm “Gue mau sponsorin Pasport Lu!” sampai akhirnya saya berhasil mendapatkan biaya untuk membeli tiket PP dan transportasi lainnya, dan uang ini adalah hasil keringat saya sendiri, honor saya menulis.

Tinggal yang perlu saya pikirkan saat ini adalah dana untuk biaya hidup (seminggu bahkan mungkin lebih) saat saya di perjalanan nanti. Ketika ada seorang teman yang mencemaskan ini, saya menjawab sangat ringan, “Tenang Teh. yang penting tiket sudah di tangan. Soal makan dan minum, yang penting ada uang buat beli air mineral!” Banyak orang kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Lantas anakanak dan ortu? mereka ditinggali apa? pertanyaan itu kembali dilontarkan beberapa sahabat. Saya kembali cengar cengir.

Yah, kemanapun saya pergi, anak-anak saya tetap makan Nasi, Lauk Pauk, Buah, dan tetap jajan kok. Soal darimana rezekinya, saya punya ALLAH yang sangaaaaaaatt besaaaar, yang Maha Mampu Mengabulkan APAPUN doa hambaNYA.

Rupanya, rezeki tak berhenti sampai disitu. Diam-diam saya coba mengajukan ide dan outline ke penerbit tentang kisah perjalanan yang akan saya lakukan nanti. Alih-alih ide saya itu diACC, editornya malah bilang, “Ngapain Lu cuma bikin satu buku, Mbak? Sini, ajuin jadi dua buku, Gue ACC deh. Gue udah baca bab pertamanya, gue suka gaya tulisan Lu. Mending jadiin berseri dua buku.”

‪#‎GuepunNyungsepDenganSukses‬

Singkat cerita, Insya Allah besok pagi saya akan mengambil Pasport di Imigrasi dan siangnya booking tiket. Tiket untuk menggapai impian, yang saya tuliskan di dinding ini, akhir tahun lalu. Insya Allah, satu langkah pertama akan saya tapakkan,semoga segera diikuti oleh tapak tapak selanjutnya, menjelajah bumi Allah. Masih tersisa 20 hari lagi untuk saya berjuang memeras keringat dan pikiran mencari dana untuk bekal perjalanan dan untuk orangorang tercinta di rumah, hasil saya sendiri, dari kerja saya sendiri. Bereskan semua deadline, dan semua persoalan akan terjawab sudah.

 

 

INSYA ALLAH, SAYA PASTI BISA!!

 

 

~Bagi temanteman di luar sana, jangan pernah patah semangat, jangan mau dipatahkan impian kalian oleh apapun juga. Orang lain hanya bisa berkomentar, tapi KITA yang menjalani takdir itu, bukan mereka. Ini pepatah (sok) bijak dari saya. ~

 

 

‪#‎WritingIndonesia‬
‪#‎EmakBackpacker‬

About LygiaPecanduhujan

Check Also

[UBER BAGIAN 2]: uberMOTOR Siap MemBIRUkan Bandung!

Lygiapecanduhujan.com – Hi, Guys! Gue balik lagi nih, dengan informasi seputar Uber yang pastinya lebih …

One comment

  1. Terharuuu..setuju teh, nothing is impossible…Allah yang maha memberi, entah dairmana jalannya, adaa saja….semoga lancar semuanya ya aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *