Home / Review / [ UBER Bagian 1] : 11 Alasan Aman Menggunakan Uber

[ UBER Bagian 1] : 11 Alasan Aman Menggunakan Uber

Uber itu bukan merupakan Aplikasi Transportasi Online, melainkan Aplikasi Teknologi. Ingat .. Ingat… (Gia Adhika, Manager Marketing Uber Indonesia)

 

Lygiapecanduhujan.com – Pertama kali  berkenalan dengan yang namanya UBER ini adalah Ramadhan tahun lalu, ketika sebagai Blogger Newbie gue dapet kesempatan untuk menghadiri launching UBER Bandung di Bober Cafe yang terletak di Jalan Sumatera ~sekarang Bober Cafe Jalan Sumatera udah tutup, tinggal Bober Cafe Jalan Riau yang buka, abaikan~. Waktu itu, gue dapet voucher Uber Rp. 100,000 dan langsung dipake buat pulang ke rumah yang terletak nun jauh di BSD sana (BSD = Bandung Sonoan Dikit). Masih nempel betul dalam ingatan waktu itu drivernya masih cukup muda, mobil Xenia Silver, dan statusnya adalah supir rental.

Sejak itu, Uber dan Lygia seolah tak pernah bisa dipisahkan lagi oleh apapun juga. Yeaaaah, emang lebay. Tapi ini bukan lebay sembarang lebay. Ini lebay yang punya alasan sangat masuk akal. Lo semua tau dong gimana kondisi jalan raya Bandung saat ini? Yup, macetnya mungkin udah kayak Jakarta terutama di waktu weekend di mana semua penduduk Jakarta dan kota-kota lain mungkin lebih dari separuhnya tumplek blek di Bandung, sementara penduduk asli Bandung mungkin terpaksa nyungsep meratapi nasib di rumah masing-masing karena nggak bisa kemana-mana akibat malas menembus kemacetan.

Buat gue, naik angkot kemana-mana sekarang jadi alternatif terakhir kalau udah kepepet banget karena nggak ada Uber atau transportasi motor online punya aplikasi sebelah. Sebelah mana? Jangan tanya gue! Kenapa jadi alternatif terakhir? Karena naik angkot sekarang lebih banyak ngetemnya. Kadang, nggak macet pun supirnya malah betah berhenti di tengah jalan, nungguin penumpang yang tak kunjung datang sambil bunyiin klakson berkali-kali dan maju mundurin angkotnya, seolah-olah siap jalan padahal pas penumpang naik ya dia tetep berhenti. Dasar PHP!

Berhubung aktivitas butuh mobilitas yang supertinggi sementara gue pasrah nggak bisa nyetir motor apalagi mobil, terpaksa gue memanfaatkan teknologi serba canggih jaman sekarang. Pakai aplikasi online buat mesen mobil atau motor. Dalam sehari, gue bisa beraktivitas di beberapa tempat sekaligus. Bertemu banyak orang, bikin banyak janji, dan dijamin gue bakal babak belur kalau musti naik angkot kemana-mana. Maklum, rumah gue seperti yang tercantum dalam paragrap pertama di atas, ada di kaki gunung Manglayang, sementara aktivitas lebih banyak di tengah kota yang jaraknya kalau pakai mobil atau motor pribadi bisa menghabiskan waktu 2 jam bahkan lebih. Kalau naik angkot? percaya deh, mesti berangkat nyubuh, saingan sama Hansip yang pulang ke rumah habis jaga malem di komplek perumahan gue.

Berhubung setahun yang lalu cuma ada Uber satu-satunya aplikasi teknologi penyedia transportasi mobil secara online, akhirnya dengan senang hati gue menceburkan diri menjadi pelanggan setianya. Nyaris seminggu bisa 3-4 kali gue naik Uber, dan itu masih berlangsung sampai sekarang. Emang sempet sih di Jakarta dan Bandung, ada demo besar-besaran menolak Uber masuk ke Indonesia karena dianggap sebagai taxi gelap, dan para penyedia layanan transportasi Taxi merasa tersaingi karena banyak konsumennya yang akhirnya lebih memilih Uber. Tapi semua itu nggak bikin gue berpaling. Sekali cinta, tetap cinta. Mungkin itu tagline paling pas, persembahan gue buat Uber ~sambil ngusap airmata haru~.

Buat sebagian besar sahabat, kedoyanan ~baca: kesukaan~ gue naik Uber itu nggak masuk akal. Apa nggak sayang duit? jutaan rupiah duit gue tiap bulan melayang masuk ke kocek para driver Uber yang ganteng-ganteng dan baik hati itu. Well, ada sih yang nggak terlalu ganteng dan nggak terlalu baik, tapi sudahlah, lupakan saja yang negatifnya, dan selalulah kenang masa-masa manisnya saja. Buat gue, nggak ada sesuatu yang terbuang sia-sia. Duit memang melayang cukup besar cuma buat bayar ongkos transport doang. Tapi kalau dengan itu mobilitas terbantu, dan gue bisa berbagi rizki dengan para driver Uber di Bandung dan Jakarta, kenapa nggak? Toh, sebanyak apapun duit yang kebuang, gue tinggal berdoa lagi semoga rezeki gue ditambahin oleh Allah, semoga pekerjaan yang dijalanin juga berkah, dan gue bisa lebih banyak lagi berbagi sama banyak orang, iya nggak? iya nggak?

Okay, Sekarang, tanpa basa basi lebih lanjut, gue pengen jembrengin di sini, 11 alasan ~menurut gue~ kenapa naik Uber itu aman dan nyaman. Lo-lo yang masih parno dan males naik Uber karena mungkin masih menyimpan ketakutan atau karena emang belum pernah merasakan nikmatnya naik Uber, mungkin bisa tergoda karena membaca 11 alasan yang bakal gue ungkap secara blak-blakan dengan tajam, setajam ….. SINGLET eh SILET.

1

LOKASI PENJEMPUTAN

Naik Uber, nggak perlu serepot naik angkot di mana kalian harus ada di pinggir jalan buat nyegat angkot. Juga nggak perlu sefrustasi memesan taxi di jam-jam sibuk, di mana kalian harus nelepon operator, pesen taxi, kemudian harap-harap cemas menunggu apakah taxi yang dipesan ada atau nggak. Kadang, di wilayah tertentu terutama di Jakarta, banyak taxi yang ogah nerima orderan kalau alamatnya adalah tempat-tempat umum macam di Mall, pinggir jalan, atau di manapun yang nggak punya alamat lengkap, sementara kadang kita kebingungan ketika ditanya alamat atau posisi tepatnya kita berada. Nah, dengan Uber, kita cuma perlu buka aplikasi (tentunya setelah mendaftar ya), dan secara otomatis, aplikasi akan menunjukkan lokasi tepat di mana kita berada. tinggal masukkan alamat tujuan, dan silakan duduk manis menunggu sang driver menjemput ke lokasi. Gampang kan? Bingiiiiiitttzz!

cymera_20160915_012729

DATA LENGKAP

Dengan memakai Uber, kita nggak perlu takut naik kendaraan tanpa kenal siapa pengemudi alias supirnya. Kalau naik angkot, boro-boro kita mau nanya siapa nama driver dan berapa nomer hapenya (kecuali kalau lo mau dikira pedekate ke si driver angkot). Pun demikian dengan naik taxi. Kalau pesan lewat operator paling kita dikirimin nomer pintu, sama nama driver, selebihnya kita intip sedikit apakah nomor pintu dan nama  yang dikasih ke kita sesuai dengan fakta yang tercantum di taxi tersebut. Nah, di Uber, hal-hal kayak gitu nggak bakal kejadian. Begitu kita masukin alamat tujuan dan order, kalau orderan kita nyangkut, secara otomatis aplikasi bakal nunjukin siapa yang akan jemput kita. Nama lengkapnya siapa, mobilnya jenis apa, nomor polisi mobil yang bakal jemput kita, berikut nomer telepon si driver.

Dari segi keamanan, jelas jauh lebih aman naik Uber dibanding naik kendaraan umum lainnya. Kalau beruntung, kita bisa dapetin mobil yang nyaman banget dengan driver yang tingkat kegantengannya boleh jadi ngalahin artis sinetron yang lagi naik daun. Gue pernah punya pengalaman nih, dapetin mobil Uber yang jenisnya Fortuner dan drivernya adalah pemilik mobil itu sendiri alias bukan mobil rentalan, dan ……….. SUPER GANTENG! Asli, baru kali itu gue grogi berat pas mau masuk ke mobil. Soalnya si Driver pake bukain pintu penumpang segala. Berasa jadi Princess cantik jelita yang lagi mau pergi kencan sama pangeran idaman. Sayang, sang pangeran duduknya di depan dan dia bukannya bukain pintu di sampingnya. Please, Mas… kan gue pengennya duduk di sampingmuuuuuu….. #Pletaaaakz!

Untuk poin yang satu ini, kita perlu hati-hati kalau ternyata mobil yang datang menjemput tidak sesuai dengan data yang ada di dalam aplikasi. Misalnya, tercantum mobilnya Avanza dengan nopol sekian-sekian, ternyata yang dateng odong-odong. Kalian punya hak buat ngebatalin perjalanan dengan alasan data yang tertera tidak sesuai dengan yang datang menjemput. Ini demi keselamatan kalian sendiri sih. Siapa tau juga di aplikasi tercantum foto drivernya terlihat masih sangat brondong , eh yang muncul ternyata aki-aki brewokan. Tolak aja, kalian nggak butuh diPHPin kan? Habis menolak, langsung laporkan lewat fasilitas HELP ya.

 

DISGUISED PHONE NUMBER

Fasilitas ini, bikin komunikasi antara Driver dengan calon penumpang menjadi anonim, alias ketika driver menelepon calon penumpang untuk memastikan penjemputan, saat telepon itu ditutup, nomer telepon si calon penumpang alias kita nggak bakal tercatat di riwayat telepon driver. Hal ini untuk menjaga privasi dan melindungi nomer-nomer telepon calon penumpang yang terkadang pengen privasi alias nggak pengen diketahui orang yang cuma dikenal selewat aja.

 

ESTIMASI BIAYA

2

Fasilitas pengecekan estimasi atau perkiraan biaya yang ada di aplikasi Uber ini, bakal bikin hidup kita bahagia lahir batin, dunia akhirat. Betapa tidak, cukup dengan masukin alamat penjemputan dan alamat tujuan, kita bisa mengecek kira-kira berapa sih duit yang harus kita siapin buat bayar perjalanan itu. Kalau ternyata biayanya mahal dan uang yang ada di kocek kita kurang, ya tinggal batalin aja order Uber dan ganti naik becak supaya lebih irit. Biasanya estimasi biaya yang tercantum adalah biaya paling murah, dan paling mahal. Sejauh pengalaman gue sih, biaya yang harus dibayarin biasanya nggak pernah lebih dari estimasi biaya termahalnya.

 

TRANSPARANSI KOMUNIKASI

3

Terkadang, sebagai perempuan, udah bukan jamannya lagi buat gue untuk selalu jadi pihak yang pasif  menunggu dilamar calon suami. Sebagai perempuan, gue juga bisa jemput bola, apalagi dengan sifat gue yang kadang suka nggak sabaran dan males nunggu terutama kalau lagi mules berat dan kudu buru-buru nyampe rumah buat menunaikan tugas negara di dalam toilet. Mungkin driver bisa aja lagi kehabisan pulsa dan nggak bisa menelepon, kita jangan buru-buru ngamuk apalagi sampe bilang, “Kenapa sih kamu nggak mau nelepon duluan? Emangnya aku cewek cantik apaan harus nelepon cowok duluan? Emang kamu udah nggak mau lagi jemput aku? Ya udah, lebih baik kita PUTUS!”. Eaaaa, kalau sampai lo bilang begitu ke Drivernya, dijamin, lo bakal segera ditendang keluar dari dalam mobil di detik pertama lo naik. Mau dikemanain harga diri lo sebagai artis yang lagi naik daun? Uleet keles.

Dengan transparansinya sistem komunikasi yang diciptakan oleh aplikasi Uber ini, Lo bisa kapanpun menghubungi Driver, baik melalui telepon ataupun pesan singkat. Di bagian informasi Driver, bakal ada pilihan mau Call Driver atau Message Driver? Yup, pilihan ada di tangan lo. Tinggal pilih yang paling sesuai dengan kondisi pulsa, dan komunikasi pun dapat berjalan dengan lancar di antara kalian berdua. Selanjutnya, terserah anda, mau langsung menuju ke rumah atau ke pelaminan #Eaaa,Gia Baper.

 

4TERDETEKSI DI PETA

Ketika gue atau lo memesan Uber, saat pesanan itu masuk ke dalam hape sang Driver, maka saat pula keberadaan mobil Uber yang lo pesen bakal bisa lo pantau lewat Map atau Peta yang ada di dalam aplikasi Uber di smartphone. Semuanya Real Time alias saat itu juga bisa dilihat, sedang apaaaa dan di manaaaa, sang driver berada. Sammy Simorangkir pun nggak bakal lagi nyanyi, “Ku tak tahuuuu, tak lagi tahuuuu, seperti waktu duluuuu!”. Sekarang kalau denger lagu Sammy yang itu, gue jadi berasa pengen jawab, “Makanya, pesen pake aplikasi Uber dong!”, karena dengan aplikasi Uber ini, kita bisa ngecek mobil yang kita order ada di lokasi mana, dan sudah sampai di mana.

Gue pernah punya pengalaman, order Uber sampe 15 menit itu mobil nggak muncul-muncul padahal drivernya udah gue teleponin berkali-kali dan dia bilang lagi OTW ~Oh Tungguan We~. Tapi gambar mobil di peta aplikasi gue kagak bergerak sama sekali dari titik awal di mana mobil itu berada. Tiap gue telepon, dia bilang lagi jalan. Padahal jarak antara dia dan gue hanya sepelemparan batu. Kok nggak nyampe-nyampe? Pas gue telepon yang terakhir kalinya dengan nada kesel dan suntuk berat, baru si driver bilang bahwa dia bentar lagi nyampe. Habis itu, baru deh gue liat di peta, mobilnya bergerak. Jadi dari tadi dia ngapain aja? Oooh, mungkin pas nerima order, Drivernya masih ada di rumah, dan lagi mules berat kayak gue tadi. #Eh.

Saat mobil nyampe di lokasi penjemputan dan perjalanan dimulai, lo juga tetep bisa ngecek di peta jalan-jalan yang mau lo lalui bersamanya.

 

BERBAGI ETA/PWT

5

ETA adalah Estimated Time of Arrival atau dalam bahasa Indonesia nya adalah PWT (Perkiraan Waktu Tiba). Fungsi dari ETA/PWT ini adalah untuk membagi informasi lokasi kita berada secara real time kepada orang-orang terdekat atau siapapun yang kita kehendaki, melalui fasilitas apapun yang bisa kita pilih, baik itu email maupun sosmed. Gimana, keren kan? Inget dong, di poin sebelumnya gue cerita kalau kita bisa tau posisi kita dengan ngecek Maps atau peta? Nah, hasil dari pengecekan itu bisa kita share dengan sahabat dan keluarga kita yang pastinya sedang harap-harap cemas menanti kedatangan anggota keluarganya dengan sepenuh kangen dan harap-harap cemas. Dengan membagikan ETA atau PWT, kita juga bisa ngasih tau ke seluruh handai taulan supaya mereka bisa turut mengawasi perjalanan yang sedang kita lakuin. Siapa tau kan, tiba-tiba ada kejadian atau musibah yang nggak diinginkan terjadi saat lo lagi naik Uber? Makanya, jangan lupa, lo bisa ngeshare jadwal dan lokasi perjalanan lo melalui beragam medsos yang bisa dipilih dari dalam aplikasi.

 

 

KEMUDAHAN PEMBAYARAN

Dulu, waktu pertama kali masuk ke Bandung, Uber hanya bisa dibayar dengan kartu kredit. Namun seiring dengan berkembangnya waktu dan teknologi, saat ini gue dan elo, iya, eluuu! bisa bayar perjalanan Uber dengan menggunakan uang Cash alias tunai. Pokoknya, apapun pilihan pembayaran elo, minumnya tetep …. yang cair-cair. Dulu, cuma orang-orang tertentu yang punya kartu kredit yang bisa menikmati perjalanan bersama Uber. Kesannya memang exclusive. Tapi buat gue yang kartu kreditnya banyakan overlimit daripada lunas itu, sekuat tenaga berdoa semoga pihak Uber mau mendengar jeritan hati salah satu pelanggan setia yang kocecknya pas-pasan seperti gue.

 

SISTEM RATING

Nah, ini salah satu alasan kenapa gue bilang naik Uber itu aman. Karena ada sistem rating yang memungkinkan gue ngasih rating atau penilaian dengan skala 1 sampai dengan 5 bintang. Anda puas kami lemas#Eh. Maksudnya, kalau kita puas, jangan segan-segan kasih rating bintang 5 untuk si Driver supaya bisa jadi penyemangat mereka dalam menjalani hari-hari bersama Uber. Tapi ada satu hal yang perlu kalian inget saat mau ngasih rating ke Drivernya, yaitu jujurlah dalam merating. Kalau emang driver atau perjalanan kalian lancar-lancar aja, nggak ada salahnya kalian kasih rating bintang 5. Namun jika ada sesuatu yang kurang berkenan, bolehlah kasih rating di bawah itu disertai dengan catatan mengkritisi supaya lain kali lebih baik. Obyektiflah dalam merating dan jangan subyektif. Mentang-mentang drivernya ganteng, meskipun dia suka ngomel-ngomel sambil nyetir, eh tetep kita kasih rating 5. Kasihan kan para calon penumpang lain ketipu sama rating yang kita kasih.

Oh iya, jangan salah lho. Bukan cuma penumpang yang bisa merating driver. Ternyata sekarang driver juga bisa lho merating penumpang yang habis menaiki uber yang dia bawa. Nah lho! Gimana dong? Jangan lupa terus ikuti artikel berikutnya tentang Uber yang bakal saya tulis ya …. Intinya adalah, selalulah bersikap baik dan sopan saat kita naik kendaraan umum.

7

SEJARAH PERJALANAN

Setiap kali kita naik Uber, maka sejarah perjalanan kita akan tersimpan rapi di dalam RIWAYAT yang bisa kita buka kapan aja. Kalau lo lagi pengen mengenang masa lalu, mengingat saat-saat manis bersama seorang Driver yang bikin hati lo kembang kempis menahan degup di dada, lo bisa buka riwayat di aplikasi Uber, dan lo cari deh siapa nama Drivernya, tanggal berapa lo naik mobil dia, dan selamat bernostalgia!

 

24/7 SUPPORT

8

Dukungan alias Support dari Uber Indonesia selama 7 hari dalam seminggu, 24 jam dalam sehari alias SETIAP HARI, bikin gue, juga lo-lo yang mulai tertarik buat naik Uber bisa bernafas lega. Pasalnya, kalau terjadi sesuatu yang nggak diinginkan, kita bakal bisa menghubungi Uber kapanpun, baik itu lewat aplikasi maupun media sosial mereka yang selama ini memang cukup aktif  menindaklanjuti segala keluhan, kritik, maupun pujian yang mampir ke meja costumer service mereka.

Hal ini, bikin lo kagak punya alasan masuk akal lainnya kenapa lo nggak mau nyoba naik Uber. Bukan begitu?

 

Well, 11 alasan kenapa naik Uber itu aman banget buat gue dan buat kalian semua udah gue persembahkan di sini. Bukan bermaksud mempengaruhi, tapi hanya sekadar berbagi hal yang positif. Di artikel-artikel berikutnya, gue bakal ngasih beberapa tips supaya perjalanan lo naik Uber itu jadi perjalanan yang menyenangkan, juga ngasih beberapa bocoran tentang positif dan negatifnya naik Uber. So, Stay Tune and Keep Ride An Uber!

il_570xn-783471446_ltmm

 

Berikut, ada sedikit obrolan seru gue di sore hari bersama seorang Driver Uber nan baik hati bernama Kang Franz, juga cuplikan percakapan gue dengan Gia Adhika, saat ketemu dalam event #KumpulUberBDG beberapa waktu lalu. Intip yuk!

 

 

About LygiaPecanduhujan

Check Also

cats

Mobil123.com: Cara Baru Jual-Beli Mobil dan Motor

Lygiapecanduhujan.com –  “Tahu nggak sih apa bedanya anak muda jaman dulu dengan anak muda jaman …

14 comments

  1. Aku naik Uber numpang-numpang aja. Diorderin temen kalo lagi di dalam kota. Abisnya di Soreang mah belom nyampe. Paling pas pulangnya. Dari kota ke Soreang. Uber… plislah ayo jajah Soreang. Saya juga kan kabita. Pengen jadi pelanggan setia. Biar ngalahin Gia. :)))

  2. Wah makin keren ya uber, kita jalan-jalan lagi yuk pake uber. Hahaha

  3. Bener ini mah pengguna UBER nomor wahid, euy .. ! Reviewnya lengkap .. sumber rujukan yg wajib di bookmark.. Trims 🙂

    • Om Ade, tuh ada calon penumpang Uber asal Soreang yang nyari2 uber di soreang. peluang bisnis kan…. #LirikNia. Semangaaaatttttt

  4. Beberapa kali dapet pengemudi Uber yg cakep dan baik hahahahha it made my day bingiittt..

    • IYesssss, itu dia. bikin baper, bikin perjalanan jadi nggak ngebosenin, bikin hidup jadi semangatttttt, malah pengennya maceeettt terus biar bisa selalu bersamanya, wkwkwkwk

  5. Setelah mendengarkan penjelasan dari Kang Gia, makin mantap deh ke mana-mana pakai Uber

  6. itu mau banget bajunya lah, dapat dari mana?

    btw teh, fitur driver rating penumpang itu fitur keren sih kalau kata aku, ga ada di pesaing

    • Hahaha, kaosnya boleh nemu dari mbah gugel. betul. Cerdas pisan Uber memasang fitur itu. Jadi fair, bukan cuma driver yang dirating, tapi juga penumpang biar nggak seenaknya aja

  7. Hai, Lydia, salam kenal dr Pamulang. Bunda pernah sekali Naik Uber, tp malesin banget deh, udah tau bunda bawa2an, eee..si doi teh anteng aja duduk nungguin dibelakang kemudi, #kemudikapalkeles – ampe anak bunda yg bereaksi:Pak, tolongin nih bawaan ibu saya. barulah doi, bergerak. Buat ngerating doi? No way lah. Postingan Lydia bikin bunda senyum2. Ada kocaknya. Sukaaaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *